Feeder Tak Seharusnya Bermain Dalam Premier League

Feeder Tak Seharusnya Bermain Dalam Premier League

Inggris / 15 November, 2019

Feeder Tak Seharusnya Bermain Dalam Premier League

Feeder Tak Seharusnya Bermain Dalam Premier League – Feeder Club ,atau team dalam sepakbola yang biasanya hanya mengisi kekosongan atau team yang bisa dengan sangat mudah dikalahkan dalam pertandingan sepakbola tak seharusnya ikut dalam Premier League.

Hal tersebut dikarenakan membuat game pada tier di tingkat kedua membuat kompetisi menjadi kurang menantang , hal tersebut karena mereka dapat dengan mudahnya untuk dikalahkan.

PKNS dan Perak SEDC akan ikut Johor Darul Ta’zim  dan Terengganu FC II sebaga team yang akan bermain di dalam Premier League pada musim berikutnya.

Berdasarkan peraturannya , mereka seharusnya tidak bisa bermain dalam Super League dan Malaysia Cup walaupun mereka memuhi syarat berdasarkan ke 12 team Premier League lainnya.

Dengan hanya tersisannya delapan team yang bertarung utuk sebuah promosi pada Malaysia Cup di musim berikutnya , para penggemar sudah mengetahui jika permainan tersebut akan menjadi permainan yang sangat membosankan , dimana para sponsor akan menghindari klub dan kompetensi yang berkaitan dengan hal tersebut.

Permohonan Selangor dan Perak dalam perihal menjadikan team PKNS dan Perak SEDC sebagai tim cadangan telah di setujui oleh The Malaysia Football League (MFL) akhir – akhir ini.

Hal tersebut biasanya memakan waktu kurang lebih satu tahun sebelum bisa menjadi feeder team , akan tetapi dalam permohonan mereka diproses dengan cepat setelah naik bandin kepada dewan MFL , yang dipimpin oleh Presiden mereka Datuk Hamidin Amin.

Aku tidak menentang konsep dari Feeder Team,akan tetapi team ini seharusnya hanya dapat bermain dalam Liga M3 bersama dengan Klub pribadi lainnya.

Tak ada masalah dalam Liga Premier jika terdapat 20 teem , akan tetapi dengan hanya memiliki 12 , dan empat menjadi Feeder Clubs , itu menghancurkan tujuan utama dari Premier League dan terlihat seakan ingin mempromosikan Liga M3 kepada dunia secara tidak langsung.

Dengan banyaknya Feeder Cub di dalam 12 team yang ikut berkompetensi , kita akan meliah banyaknya pemain yang mendapatkan pekerjaan penuh , atau mengadu nasib kepada bisnis dimana terdapat beberapa kesempatan bagi mereka untuk dapat bermain ke sebuah team.

Akibat dari Feeder Club perkembangan para pemain di setiap pertandingan akan menurun , dan membuat kualitas dari Liga akan terkena dampaknya.

Kedua tim tersebut Perak SEDC dan PKNS tak memiliki pilihan selain berada dalam belas kasihan team inti mereka dan ketergantungan antara negara masing  – masing dalam perihal anggaran untuk bisa bersaing di M-League.

Anggarana mereka akan diambil dan juga mereka dipaksa untuk mencari sponsor lain jika mereka menentang pada negara bagian.

 

Beberapa team yang berada dalam Liga juga dalam keadaan sulit yang serupa , Kecuali team Johor Darul Ta’zam (DJT) yang di danain oleh Pemerintahan.

Setelah menyelesaikan pertaindan kesembilannya di Super League musim lalu , UiTM FC akan bermain di dalam Top Tier Football untuk pertama kalinya tahun yang akan datang.

Walaupun telah menyelesaikan pertandingan kesembilannya pada musim lalu , bagaimanapun juga aku masih ragu , apakah mereka memiliki finansial yang cukup dalam membeli eberapa pemain terbaik untuk dimasukkan ke dalam team mereka nanti.

Mereka sebenarnya lebih baik di letakkan di dalam Tier-Rendah dibandingkan di Liga Premier.Memiliki Feeder Club dalam kompetisi sebenarnya tidaklah buruk untuk pembangunan.